Kisah Sohibul Izar, Penyuluh Pola Nasional Membangun Impian Bajulmati
Hati Sohibul Izar resah, saat ia menyaksikan laki-laki dan wanita sampaumur masih terbiasa mandi di sungai yang sama. Ia makin resah, tatkala menyaksikan banyak anak tak sekolah. Mereka terpaksa harus bekerja mencari nafkah untuk membantu orang tua. Himpitan ekonomi alasannya.
Itulah sekelumit citra keadaan yang disaksikan Sohibul Izar masa pertama kali tiba ke Desa Bajulmati, Kecamatan Gadangan, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Desa pesisir pantai yang berjarak sekitar 57 Km dari Kota Malang ini, mempunyai kondisi sosial ekonomi yang memprihatinkan. Rapuhnya pengetahuan apa lagi pengamalan agama, ditambah dengan lemahnya kondisi ekonomi masyarakat.
Sohibul Izar, sebagai penyuluh agama pun bertekad memperbaiki tatanan kehidupan warga Bajulmati. Pria kelahiran Mojokerto tahun 1966 ini, memulai dakwahnya dengan mendirikan sebuah forum sosial yang ia beri nama "Harapan Bajulmati", sebuah nama yang menjadi harapan dan harapannya untuk desa tercinta.
Sesuai dengan kebutuhan warga, forum sosial yang ia dirikan berfokus pada bidang pendidikan, wirausaha, pelayanan jasa, dan konservasi yang tidak sanggup dipisahkan satu sama lain. Keseluruhan jadwal itu ia berdiri dengan administrasi serta etika dan etika mulia.
"Harapannya, ini sanggup memanggil hati masyarakat untuk bersama memperbaiki kondisi lingkungan," ungkap Kang Izar, begitu ia biasa disapa.
Ia pun menggagas jadwal penanaman bibit mangrove di desa ini. Selain sebagai upaya pelestarian lingkungan, jadwal ini lalu menjadi lahan wirausaha masyarakat Bajulmati.
Kejelian laki-laki 53 tahun ini melihat peluang, membuatnya menginisiasi jadwal wisata petualangan rafting yang banyak diminati kaum muda. "Dari situ, kita menyisipkan dakwah dengan cara-cara santun dalam kehidupan sehari-hari sebagai bab dari sikap islami," terperinci Izar.
Izar juga mendirikan majelis taklim untuk meningkatkan pemahaman keagamaan warga sekitar.Di bidang pendidikan, Izar mendirikan Taman Kanak-kanak dan PAUD yang keseluruhan tenaga pengajarnya yaitu Muslim. "Secara otomatis bawah umur usia dini sanggup mendapat pendidikan dasar agama Islam," tuturnya.
Program pemberdayaan masyarakat yang ia berdiri lantas mengantarkannya menjadi Penyuluh Agama Islam Teladan Tingkat Nasional Tahun 2019.Tak hanya Kementerian Agama, Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga memberi apresiasi berupa sepeda motor untuk memudahkan Sohibul Izar membangun cita-citanya.
Perjuangan Izar sanggup menjadi ide para Penyuluh Agama Islam lainnya di seluruh tanah air, untuk terus berjuang memperbaiki masyarakat di wilayah masing-masing.
Apresiasi yang diberikan oleh Pemprov Jawa Timur, juga sanggup menjadi ide bagi pemerintah kawasan lain di Indonesia, untuk bersama dengan Kementerian Agama memberdayakan Penyuluh Agama Islam sebagai ujung tombak pembangunan masyarakat di bidang agama.

Komentar
Posting Komentar